Soal :
- Menurut Jean Piaget, proses belajar sebenarnya terdiri atas tiga tahapan yaitu, asimilasi, akomodasi dan ekuilibrasi. Jelaskan msing-masing tahapan tersebut dan berikan contohnya ?
- Ambil satu contoh pembelajaran kooperatif, berikan ilustrasinya dalam proses pembelajaran !
- Apa yang dimaksud dengan belajar berbasis aneka sumber dan apa manfaatnya ?
- Jelaskan tujuan dan fungsi dari evaluasi belajar ?
- Sebagai seorang Guru harus bisa mendiagnosa masalah-masalah belajar, salah satunya dengan menelaah/menetapkan status siswa, jelaskan asumsi anda !
Jawaban :
1. Tiga tahapan belajar menurut J. Piaget
1. Tiga tahapan belajar menurut J. Piaget
- Asimilasi, adalah proses perpaduan antara informasi baru dengan struktur kognitif yang sudah dimiliki. Dalam proses ini seseorang menggunakan struktur atau kemampuan yang sudah dimilikinya untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam lingkungannya. Persyaratan penting untuk terjadinya asimilasi ialah struktur internal yang menggunakan informasi baru. Misalnya : Pada saat siswa sudah masuk ke Sekolah Menengah Pertama kelas VII, Siswa sudah bisa memahami bagaimana cara menemukan rumus luas segitiga dan dapat menggunakannya dalam memecahkan permasalahan yang ada di sekitarnya. Misal menghitung luas atap rumah yang berbentuk segitiga.
- Akomodasi, adalah penyesuaian struktur internal dengan ciri-ciri tertentu dari situasi khusus yang berupa objek atau kejadian yang baru. Dalam proses akomodasi ini seseorang memerlukan modifikasi struktur internal yang ada dalam menghadapi reaksi terhadap tantangan lingkungan.
Misalnya : bila bayi sudah tahu bahwa ia dapat menggengam setiap benda yang dilihatnya. Namun bila benda itu besar, diperlukan akomodasi (penyesuaian) untuk dapat menggenggam benda tersebut, misalnya dengan menggunakan kedua tangannya. Begitu sebaliknya, bila ia menggenggam benda yang lebih kecil.
- Ekuilibrasi, adalah pengaturan diri yang berkesinambungan yang memungkinkan seseorang tumbuh, berkembang dan berubah sementara untuk menjadi lebih mantap/seimbang. Ekulibrasi bukan keseimbangan dalam hal kekuatan melainkan merupakan proses yang dinamis yang secara terus-menerus mengatur tingkah. Proses ekuilibrasi ini disebut juga proses penyeimbangan antara “dunia luar” dengan “ dunia dalam” . Tanpa proses ini perkembangan intelektual seseorang akan tersendat-sendat atau akan berlangsung secara tidak seimbang.
Misalnya : Bayi yang biasanya mendapat susu dari payudara ibu ataupun botol, kemudian diberi susu dengan gelas tertutup (untuk latihan minum dari gelas). Ketika bayi menemukan bahwa menyedot air gelas membutuhkan gerakan mulut dan lidah yang berbeda dari yang biasa dilakukannya saat menyusu dari ibunya, maka si bayi akan mengakomodasi hal itu dengan akomodasi skema lama. Dengan melakukan hal itu, maka si bayi telah melakukan adaptasi terhadap skema menghisap yang ia miliki dalam situasi baru yaitu gelas. Dengan demikian asimilasi dan akomodasi bekerjasama untuk menghasilkan ekuilibrium dan pertumbuhan.
2. Salah satu model pembelajaran kooperatif ialah type jigsaw. Model Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya.
Illustrasi : guru akan mengajarkan pembelajaran matematika dengan materi bangun datar dan sub materi luas segi tiga, luas segi empat, luas lingkaran dan luas persegi panjang.
Misalkan dalam satu kelas siswa berjumlah 20 siswa, karena sub materi palajaran berjumlah 4 sub materi maka guru membaginya menjadi 4 kelompok ahli jadi masing-masing kelompok berjumlah 5 siswa
Kelompok 1 : membahas sub materi luas segi tigaKelompok 2 : membahas sub materi luas segi empat
Kelompok 3 : membahas sub materi luas lingkaran
Kelompok 4 : membahas sub materi luas persegi panjang
Masing-masing kelompok ahli ini membahas dan mendiskusikan pelajaran sesuai sub materi masing-masing. Setelah waktu yang ditentukan oleh seorang guru untuk mendiskusikan sub materi selesai maka kelompok ahli ini dipecah kembali, setiap siswa dalam satu kelompok ahli disatukan dengan setiap siswa dalam kelompok ahli yang lain. Jadi akan terbentuk 5 kelompok dengan jumlah anggota 4 siswa ( kelompok asal ), dalam kelompok asal ini masing-masing siswa yang berasal dari kelompok ahli yang berbeda menjelaskan kepada anggotanya hasil dari diskusinya jadi dalam satu kelompok satu siswa menguasai satu bahasan sub materi yang diajarkan
3. BEBAS ( belajar berbasis aneka sumber ) atau aslinya dikenal dengan istilah Resources-based Learning merupakan salah satu strategi penerapan pradigma konstruktifism. Dalam paradigma pendidikan tradisional, guru dianggap sebagai satu-satunya sumber belajar. Dalam paradigma pendidikan modern, tidak lagi demikian. Siswa dapat belajar dari berbagai sumber lain tidak hanya guru.
Manfaatnya :
- Selama pengumpulan informasi terjadi kegiatan berpikir yang kemudian akan menimbulkan pemahaman yang mendalam dalam belajar (McFarlane, 1992)
- Mendorong terjadinya pemusatan perhatian terhadap topik sehingga membuat peserta didik menggali lebih banyak informasi dan menghasilkan hasil belajar yang lebih bermutu (kulthan, 1993)
- Meningkatkan sikap murid dan guru terhadap materi pembelajaran dan prestasi akademik (cuel, 1991)
- Membuat orang antusias belajar dan terinspirasi untuk berpartisipasi aktif (Wilbert, 1976)
- Dorrel juga mengutip Pernyataan Alan Mumford (1988) mengenai keuntungan BEBAS ini, yakni:
- Meningkatkan kemampuan belajar
- Meningkatakan motivasi belajar
- Menumbuhkan kesempatan belajar yang baru
- Mengurangi ketergantungan pada atasan dan guru
- Melipatgandakan – membatu bawahan
- Menumbuhkan rasa percaya diri dalam menghadapi tantangan baru
4. Evaluasi merupakan suatu proses berkelanjutan tentang pengumpulan dan penafsiran informasi untuk menilai keputusan-keputisan yang dibuat dalam merancang suatu sistem pembelajaran.
Adapun tujuan dari evaluasi belajar antara lain :
- Menentukan angka kemajuan atau hasil belajar pada siswa
- Penempatan siswa ke dalam situasi belajar mengajar yang tepat dan serasi dengan tingkat kemampuan, minat dan berbagai karakteristik yang dimiliki.
- Mengenal latar belakang siswa (psikologis, fisik dan lingkungan) yang berguna baik bagi penempatan maupun penentuan sebab-sebab kesulitan belajar para siswa
- Sebagai umpan balik bagi guru, yang pada gilirannya dapat digunakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan program remdial bagi siswa.
Fungsinya yaitu : Kurikuler (alat pengukur ketercapaian tujuan mata pelajaran), instruksional (alat ukur ketercapaian tujuan proses belajar mengajar), diagnostik (mengetahui kelemahan siswa, penyembuhan atau penyelesaian berbagai kesulitan belajar siswa)., placement (penempatan siswa sesuai dengan bakat dan minatnya, serta kemampuannya) dan administratif BP (pendataan berbagai permasalahan yang dihadapi siswa dan alternatif bimbingan dan penyuluhanya).
5. Penetapan status siswa merupakan salah satu diagnosis masalah belajar, Tahap ini merupakan tahapan yang paling baik dalam mendiagnosa kesulitan-kesulitan belajar yang dialami para siswa yakni tahapan ini dapat menentukan sampai sejauh mana siswa dapat mencapai tujuan yang diharapkan oleh guru/sekolah bahkan oleh dirinya sendiri. Dengan kata lain guru yang sudah dapat menelaah atau sudah bisa menetapkan status siswa berarti dia sudah dapat menentukan pola kekuatan dan kelemahan siswa dalam belajar.


Komentar
Posting Komentar